Senin, 12 Maret 2012

Sifat Pemalu Pada Anak dan Cara Menghadapinya

Ada banyak anak-anak yang dikategorikan pemalu. Namun jika kita memahamiya sifat 'pemalu' tidaklah selalu jelek. Sifat pemalu bisa menjadi 'berkah' atau hambatan bagi seorang anak, tergantung dari cara mengahadapinya.

1. Ketika pemalu adalah berkah

Sifat pemalu adalah kepribadian, bukan kesalahan. Beberapa orang paling baik yang pernah saya kenal memilki sifat pemalu. Orang seperti ini biasanya adalah sahabat yang penuh perhatian, yang memancarkan keramahan bahkan tanpa satu kata-pun. Sifat pemalunya-lah yang pada awalnya memunculkan ketertarikan saya pada Martha. Kami bertemu pertama kali di sebuah pesta persaudaraan di tahun-tahun akhir saya di Fakultas Kedokteran. Dia berdiri ditengah-tengah keriuhan saudara-saudara yang lain, semua orang berbicara, tetapi dia hanya mendengar. Dia mengamati semua orang, hanya tersenyum tapi kehadirannya sangat terasa. Dia seorang introvert yang mampu membuat semua extrovert di sekitarnya merasa nyaman. Saya berpikir " Ada orang yang sangat baik disini". Saya menyapanya di kemudian hari, dan sisanya adalah kisah yang indah.


Anda tidak harus mengatakan "Maaf, dia sangat pemalu" dengan nada ber-apologi, terutama di depan anak anda, karena memang tidak ada yang salah dengan menjadi pemalu, sebaliknya justru banyak benarnya. Banyak orang tidak memahami sifat pemalu sehingga menganggapnya sebagai suatu masalah. Mereka percaya bahwa anak dengan sifat pemalu memiliki citra diri yang buruk. Sebenarnya, anak dengan kecendrungan pemalu, memiliki konsep diri yang solid, mereka memiliki ketenangan jiwa (inner peace) yang memancar. Jika semua orang extrovert mau mengenali mereka, para extrovert itu akan melihatnya. 


Para orang tua biasanya khawatir melihat anak mereka tetap diam ditengah keriuhan, "apakah dia hanya malu, atau ada masalah yang lebih serius?". Begini menjawabnya. Anak pemalu yang sehat biasanya tetap melakukan kontak mata, sopan, dan terlihat bahagia dengan dirinya. Dia diam saja, tingkah lakunya secara umum baik dan orang-orang nyaman dengan kehadirannya.


Beberapa anak pemalu biasanya serius (deep thinking) dan berhati-hati. Mereka agak lambat dalam memulai interaksi dengan orang baru. Mereka mempelajari dulu orang tersebut untuk melihat apakah akan mungkin terjadi interaksi positif. Anak "pemalu" memiliki ketenangan jiwa (inner peace) sehingga "sifat pemalu" (shyness) ini berfungsi sebagai pelindungnya. Anak keenam kami, Matthew, adalah salah satu anak paling bahagia dengan kecendrungan seperti ini. Matt sangat berhati-hati dengan pertemanannya, tapi sekali dia berteman itu adalah teman untuk selamanya.

Singkat cerita, Setelah Matt mulai bersekolah, pada rapat orang tua-guru (parent-teacher conference) yang pertama, sang guru bertanya "Matthew sangat pemalu, ya?". "Ya, dia pendiam (reserved)", kami jawab. Lalu di tengah pembicaraan topik yang sama kembali muncul "Matt sangat pendiam". "Ya, Matt sangat fokus", kami menjelaskan. Akhirnya sang guru memahami bahwa kami melihat perilaku Matthew sebagai hal positif, bukan masalah.  

2. Ketika sifat pemalu adalah masalah

Bagi sebagian anak, sifat pemalu (shyness) adalah manifestasi dari masalah batin (inner problem), bukan ketenangan jiwa (inner peace). Mereka biasanya menghindari kontak mata dan memiliki banyak masalah tingkah laku (behavioral problem). Orang-orang tidak akan merasa nyaman dengan kehadirannya. Ketika kita mencoba untuk menyelami meraka, kita akan menemukan bahwa segala tindakan mereka bersumber dari rasa marah dan takut. Jika mau menyelami mereka lebih dalam, biasanya mereka memiliki banyak sekali alasan untuk marah.

3. Bersembunyi di balik sifat pemalu

Beberapa anak malah bersembunyi di balik 'label' pemalu sehingga mereka tidak harus memperlihatkan kepada orang lain jati diri yang mereka tidak sukai. Label ini dimanfaatkan sebagai sebuah alasan pembenaran untuk tidak mengembangkan dan melatih kemampuan bersosialisasi. Anak dengan motivasi yang rendah (unmotivated child) biasanya juga menggunakannya sebagai pembenaran untuk tidak berusaha lebih keras dan tetap berada di level yang itu-itu saja. Untuk anak-anak seperti ini, sifat pemalu adalah masalah. Untuk membantu mereka kita harus membangun ke-percaya diri-an mereka. Mereka membutuhkan orang tua yang disiplin dengan cara-cara yang tidak menjurus pada kemarahan atau ke-tidak suka-an.

4. Anak yang sebelumnya extrovert menjadi introvert

Bagaimana dengan anak usia dua tahun yang selalu tersenyum, menyapa dan melambai kepada setiap orang yang ditemuinya, tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan pemalu? Biasanya para ibu akan mengkhawatirkan "apakah ada sesuatu yang salah yang telah mereka lakukan?", biasanya jawanbannya adalah, tidak ada! Sebelum usia dua tahun, biasanya anak-anak berperilaku lebih spontan, mereka bertindak kemudian baru berpikir, terutama dalam hal berinteraksi. Usia antara 2-4 tahun, anak-anak memasuki fase selanjutnya dalam berhadapan dengan pendatang baru atau orang asing (stranger), mereka menjadi takut dengan orang-orang yang belum mereka kenali.

Penolakan atau menarik diri dari interaksi adalah fase yang normal dalam pertumbuhannya. Jadi sebelum anda meminta maaf kepada kerabat anda, merasa malu, atau menggunakan jasa guru tingkah laku (behavioral therapist), bersabarlah. berikan anak anda ruang dan dan dorongan dan tidak lama lagi dia akan kembali bersinar.

Orang tua biasanya masih bertanya-tanya tentang sifat malu pada anak mereka, "apakah ini hanya fase yang harus dilewati?", "apakah dia harus lebih didorong agar menjadi lebih out going?" Atau "apakah ada masalah serius lainnya?". Untuk mengetahuinya inilah yang harus anda lakukan:

5.  Peluklah buah hati anda

Pertama pahami bahwa anda dikaruniai buah hati yang memiliki sensitivitas, kasih sayang, seorang anak yang tenang dan pendiam (reserved child) yang lambat beradaptasi, berhati-hati dalam berinteraksi, tetapi sangat bahagia. Peluklah dia dan dunia akan terasa menjadi tempat sangat lembut baginya.

6. Semakin anda paksa, dia akan semakin menarik diri

Anda tidak bisa memaksakan seorang anak untuk menjadi tidak pemalu. Akan jauh lebih baik jika anda menciptakan sebuah lingkungan yang nyaman baginya dan membiarkan dia tumbuh dan berkembang secara alami. Jangan sekali-kali melabelinya pemalu (shy). Jika mereka mendengar anda berkata seperti itu mereka akan merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan mereka. Jika anda terpaksa, gunakan kata kalem (reserved) atau pendiam (personal). Misalnya jika berkunjung ke rumah bibi, kata yang biasanya sering diucapkan adalah "Jangan pemalu seperti itu, bibi tidak akan menggigit". Saya jamin, bukannya memperbaiki keadaan, anda malah membuatnya semakin diam dan takut. Yang seharusnya anda lakukan adalah memberitahukan keinginan anda kepada anak anda sebelum sampai di rumah bibi; " sapa lah bibimu, katakan hai, lalu berlakulah sopan dan ramah padanya". Dan jangan meminta lebih dari kesanggupannya. Tetap berikan perhatian pada anak anda ketika sudah dirumah bibi, libatkan dia ketika anda bercengkrama. Sebaiknya minta anak anda untuk membawa mainan favoritnya yang bisa menjadi 'jembatan' bagi bibi untuk berinteraksi dengannya.

7. Jangan menjadikannya sebagai artis pertunjukan

Nenek dan Kakek akan berkunjung ke rumah, anda sangat ingin anak anda memperlihatkan kemampuannya bermain piano di depan kakek dan nenek. Jangan pernah meminta anak anda tanpa pemberitahuan sebelumnya. Anak anda dipastikan akan melarikan diri dari permintaan anda, dan anda akan sibuk meminta maaf kepada kakek dan nenek. Sebaiknya bicarakan dengannya secara personal, dan mintalah persetujuannya; "kamu bermain piano dengan sangat baik, dan nenek ingin sekali melihat permainanmu, maukah kamu menunjukkannya pada nenek sedikit saja?". Ada anak-anak yang memang terlahir sebagai "performer", tapi ada juga anak-anak yang merasa sangat nyaman bermain untuk mereka sendiri. Dengan meminta persetujuannya anda telah menghargainya dan memberikan rasa nyaman tersebut.

8. Anak yang pendiam dan Ibu yang ceriwis

Kombinasi dimana sang ibu mendominasi perkembangan sosial anaknya. Contohnya di suatu kesempatan saya bertemu dengan Susy, seorang anak pendiam, sopan dan gampang didekati, di ruangan praktek saya. Saya bertanya "Susy, apakah ada sesuatu yang kamu rasakan?" Baru saja Susy membuka mulutnya untuk berbicara, Ibunya menginterupsi "Dia merasa....bla..bla.." dan mengatakan detailnya kepada saya. Kemudian saya bertanya kembali "Susy, apakah benar itu yang kamu rasakan?" dan sekali lagi se-per sekian detik sebelum Susy membuka mulutnya, sang Ibu kembali menyela "dan dia juga merasakan...bla..bla.." Dan diakhir pemeriksaan Ibunya mengatakan "Ayolah Susy, jangan malu, katakan yang mengganggumu". Akan tetapi Susy tetap diam sepanjang pemeriksaan, semangatnya telah diruntuhkan oleh keceriwisan ibunya. Susy sama sekali tidak pemalu, dia hanya terlahir sebagai anak yang tenang. Tapi tempramen dan keprabadian yang tidak cocok (missmatch) ini telah menghambat perkembangan kemampuan berkomunikasi Susy dan menghambat sang Ibu untuk belajar mendengarkan. Saya menyarankan jika saja ibunya menjadi lebih pendiam di depan Susy, maka Susy akan menjadi lebih outgoing . Dan pada check-up selanjutnya keadaan Susi jauh lebih baik.


this article is taken from http://www.askdrsears.com/topics/child-rearing-and-development/8-ways-help-shy-child and translated into Bahasa Indonesia by Hadi M Zaf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar