Senin, 19 Maret 2012

Mengenal Disleksia Pada Anak

Disleksia sudah dikenal sejak lama dan didefinisikan dengan cara yang berbeda-beda. Sebagai contoh pada 1968  the World Federation of Neurologists mendefinisikan disleksia sebagai "anak-anak yang memiliki gangguan di kelas konvensional dalam hal membaca, menulis, mengeja, setaraf tingkat kemampuan intelektual mereka". Menurut  U.S. National Institutes of Health, disleksia adalah ketidak mampuan belajar (learning disabilities) yang menghambat anak-anak untuk dapat belajar membaca, menulis, mengeja, dan kadang-kadang, bicara. Disleksia adalah masalah gangguan belajar yang paling umum ditemui pada anak-anak

Anak-anak dengan disleksia mengalami kesulitan dalam belajar membaca, meskipun itu hanya sebuah perintah sederhana yang sangat tradisional. Hal ini disebabkan oleh adanya penurunan fungsi otak dalam menerima dan menterjemahkan visualisasi yang diterima dari mata atau telinga ke dalam bahasa yang dimengerti. Hal ini tidak disebabkan oleh adanya gangguan penglihatan atau pendengaran, juga bukan keterbelakangan mental (mental retardation), kerusakan otak atau kurangnya kecerdasan.

Disleksia bisa saja tidak terdeteksi di kelas-kelas sekolah. Akibatnya, anak dengan kecendrungan seperti ini akan mengalami frustasi. Mereka mungkin akan menunjukkan tanda-tanda depresi dan rendah diri. Hal ini juga akan melemahkan motivasi dan menumbuhkan rasa tidak suka terhadap sekolah. Kesuksesan anak di sekolah akan dipastikan gagal jika hal ini tidak segera ditangani dengan tepat. 

Apa yang menyebabkan disleksia? dan Apa saja jenisnya?
  1. Trauma Dyslexia , biasanya terjadi setelah adanya cedera atau trauma pada daerah otak yang mengontrol kemampuan membaca dan menulis. Hal ini sangat jarang ditemui pada anak-anak usia sekolah.
  2. Primary Dyslexia, jenis ini disebabkan oleh disfungsi, bukan kerusakan, sisi kiri otak (cerebral cortex). Individu dengan masalah ini jarang mampu membaca di kelas 4 SD, dan mungkin saja mereka tetap akan mengalami kesulitan hingga usia dewasa. Disleksia jenis ini biasanya disebabkan oleh turunan melalui gen mereka (hereditary). Hal ini lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibanding anak perempuan.
  3. Secondary Dyslexia atau Developmental Dyslexia, disebabkan oleh perkembangan hormon selama masa perkembangan janin. Disleksia jenis ini akan berkurang dan membaik dengan sendirinya seiring dengan perkembangan si anak.
Selain itu disleksia juga dapat berpengaruh pada beberapa fungsi yang berbeda; Visual Dyslexia, ditandai dengan kesulitan mengidentifikasi nomer dan huruf (mungkin terbalik-balik) dan ketidakmampuan untuk menuliskan setiap simbol dengan berurutan. Auditory Dyslexia melibatkan kemampuan untuk mendengar suara huruf atau kelompok huruf. Suara dianggap campur aduk dan atau tidak terdengar dengan benar/sempurna. Disgraphia merupakan kesulitan yang dihadapi anak saat berusaha memegang dan mengendalikan pensil sehingga tidak mampu menuliskan apapun dengan benar.   


*this article is taken from http://www.medicinenet.com/dyslexia/article.htm and translated into Bahasa Indonesia by Hadi M Zaf
*the picture used in this article is taken without permission from thetotallearningcentre.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar