Selasa, 13 Maret 2012

Tips Untuk Membina Kepercayaan Diri yang Sehat Pada Anak

Pada umumnya semua orang tua menyadari bahwa perasaan self-worthed (merasa keberadaannya berharga) bagi seorang anak berkaitan erat dengan lingkungan sosial dan pendidikannya, hanya saja terkadang yang tidak disadari oleh orang tua adalah, betapa mudahnya untuk menghancurkan rasa percaya diri (self esteem) si anak. Riset menunjukkan bahwa anak dengan kemampuan belajar yang kuran g baik memiliki tingkat kepercayaan diri yang kutrang baik pula, tapi SEMUA anak akan merasa berharga ketika orang tua mereka maju untuk membantu mereka membangun perasaan positif. The Coordinated Campaign for Learning Disabilities dan Dr. Robert Brooks, telah merangkum hal-hal berikut sebagai saran untuk para orang tua:

1.  Bantu anak anda merasa spesial dan dihargai

Riset membuktikan bahwa salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh kepada anak untuk membangun harapan adalah kehadiran satu orang dewasa yang dapat membantu mereka merasa spesial dan dihargai; seorang dewasa yang peduli terhadap permasalahan mereka, dan memfokuskan energinya untuk menguatkan si anak. Salah satu caranya adalah menyediakan waktu khusus bagi masing-masing anak anda. Jika anak anda  sudah di usia 7 tahun keatas akan sangat membantu jika anda mampu mengatakan "ketika aku bermain bersamamu, aku tidak tertarik untuk menjawab panggilan telepon." Dan pada waktu spesial ini fokuslah pada hal-hal yang dia sukai, bukan anda sukai, sehingga dia punya kesempatan untuk rileks dan dia akan menunjukkan seluruh bakat dan kemampuannya.

2.  Bantu anak anda untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah (problem solving)  dan mengambil keputusan (decision-making)

Kepercayaan diri yang tinggi juga sangat berkaitan dengan kemampuan memecahkan masalah. Contohnya: Jika anak anda memiliki masalah pertemanan, anda dapat mengajaknya untuk memikirkan beberapa jalan keluar untuk situasi tersebut. Tidak masalah jika dia tidak dapat menemukan jalan keluar, karena ada anda yang akan membantu merefleksikan beberapa kemungkinan.

3.  Hindari komentar menghakimi, sebaliknya bingkai dalam kata-kata yang positif

Kalimat menghakimi terkadang terdengar biasa, contohnya: "Usahakan lagi, cobalah lebih keras!" . Banyak anak-anak yang sudah berusaha sekeras mungkin tapi masih saja mengalami kesulitan. Untuk kasus seperti ini sebaiknya anda mengatakan "mungkin kita harus menemukan cara/ strategi lain yang lebih baik untuk membantumu". Dengan menyatakan seperti ini anda juga membangun kemampuan mereka dalam memecahkan masalah.

4.  Jadilah orang tua yang ber-empati

Banyak orang tua yang baik pada akhirnya frustasi dan mengatakan hal-hal seperti; "kenapa kamu tidak mau mendengarkan saya?" atau "Kenapa kamu tidak menggunakan otakmu?". Sebaiknya tunjukkan empati anda bahwa anda tahu dia mempunyai masalah dan ajak sama-sama memikirkan solusinya.

5.  Selalu sediakan pilihan untuk mereka.

6. Jangan pernah membanding-bandingkan, terutama dengan saudaranya

7.  Ketahuilah kelebihan-kelebihan yang mereka miliki

Sangat disayangkan banyak anak-anak yang melihat diri mereka sendiri secara negatif, khususnya dalam hal belajar dan sekolah. Buatlah sebuah peta kompetensi (islands of competence), pilih salah satu nya, berikan dukungan dan ruang yang luas bagi mereka untuk menunjukkan bakatnya.

8.  Sediakan peluang bagi mereka untuk membantu

Anak-anak sepertinya terlahir dengan keinginan untuk dapat membantu orang lain. Ini juga sebaiknya menjadi salah satu cara kongkrit untuk menunjukkan kompetensi mereka, sehingga mereka merasa memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada dunia.  Mengikutsertakan mereka dalam kegiatan amal juga bisa menjadi alternatif. Membantu orang lain memberikan rasa luar biasa yang dapat membantu mengangkat kepercayaan diri mereka dengan cepat.

9.  Jangan menetapkan ekspektasi yang tidak realistis

10. Jika anak anda memiliki masalah dalam belajar, berikan informasi yang sebenarnya kepada anak anda. 

Anak-anak terkadang memiliki fantasi dan miskonsepsi tentang masalah mereka, contohnya seorang anak berpikir bahwa dia terlahir dengan otak yang hanya setengah


this article is taken from http://life.familyeducation.com/self-esteem/parenting/36374.html and translated into bahasa Indonesia by Hadi M Zaf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar